PORSETA FC_Di negara Indonesia sepakbola merupakan cabang olahraga yang amat populer. Tak hanya untuk disaksikan, tapi juga dimainkan. Baik oleh mereka yang profesional maupun amatir kompetisi liga maupun gelaran tarkam (antar kampung), dari stadion-stadion megah hingga lapangan kampung di pinggir sawah.
Bicara mengenai ajang yang disebut belakangan, rasanya sulit untuk mencari sumber sejarah yang valid tentang kapan maraknya tarkam di Indonesia. Namun yang pasti, tarkam laksana tradisi yang terus menggelinding dalam ranah sepakbola di tanah air.
Jika dahulu tarkam didominasi oleh mayoritas kita yang memang pesepakbola amatir, tapi sekitar satu setengah dekade pamungkas tarkam juga diikuti oleh banyak pemain profesional. Sudah tak terhitung berapa banyak dokumentasi yang muncul di koran-koran atau media sosial tentang pesepakbola profesional yang tunggang langgang di atas lapangan botak dan tak rata di sudut-sudut kampung.
Sebuah alasan klasik menyeruak dan semakin populer jadi tameng pesepakbola profesional tersebut berlaga di ajang tarkam. Ya, demi asap dapur yang harus terus mengepul. Utamanya saat kompetisi profesional terhenti, kontrak mereka sudah habis dengan pihak klub atau apes karena gagal mentas di ajang profesional gara-gara tak dilirik kesebelasan manapun.
Di ajang tarkam, mereka yang profesional memang diperlakukan sedikit berbeda walau tetap saja, tak ada jaminan kesehatan andai mereka ditimpa cedera parah. Misalnya pendapatan per pertandingan yang nominalnya cukup lumayan, mulai dari ratusan ribu (biasanya di atas 200 ribu Rupiah) sampai jutaan Rupiah.
Tarkam kecamatan Ketapang Lampung Selatan
Lampung Selatan merupakan salah satu kabupaten yang terletak di daerah provinsi Lampung perkembangan sepakbola profesional di Lampung Selatan amat tertinggal, .
Alhasil, ketertinggalan itu membuat masyarakat Lampung Selatan ‘menghibur diri’ dengan kompetisi tarkam. Menurut hemat saya, periode tahun 2019 sampai sekarang ini menjadi kebangkitan tingginya atmosfer liga tarkam di Lampung Selatan tepatnya kecamatan Ketapang.
Gambar. Salah satu tim tarkam di kecamatan Ketapang
Maklum saja, setiap tim dari masing-masing desa pasti didukung penuh oleh warga desa setempat. Fanatisme sempit tersebut memunculkan solidaritas kelompok di antara mereka. Sementara tim dari desa lain dianggap sebagai kelompok asing.
Perasaan in-group (bagian dari kami) dan out-group (bukan bagian dari kami) menimbukan percikan-percikan permusuhan antartim yang merembet pada timbulnya sentimen negatif. Rivalitas inilah yang membuat para pengusaha dan sebagian masyarakat merogoh kocek cukup besar untuk mendanai sebuah tim dari desanya.
Suporter berduyun-duyun datang ke lapangan kampung setiap sore demi mendukung tim dari desanya masing-masing. Mereka pun hadir dengan atribut lengkap sampai drum yang siap ditabuh sepanjang laga demi memberi semangat.
Saya sendiri percaya, tarkam adalah perwujudan dari kecintaan kita mayoritas orang Indonesia, terhadap sepakbola. Maka tak perlu kaget bila tarkam akan terus ada di tanah air kendati akhir-akhir ini, lapangan sepakbola yang digunakan untuk menghelat tarkam mulai berganti rupa menjadi beraneka gedung!
Dan semoga dengan adanya kompetisi tarkam persepakbolaan Indonesia akan selalu ada regenerasi!